Minggu, 17 Februari 2013
Selasa, 22 Januari 2013
ASPEK KEIMANAN DI RUMAH
Rasulullah shallallahu alaihi
wasalam bersabda:
"Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati".Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi
"Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati".Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi
Karena itu rumah harus dijadikan
sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam dzikir, baik itu dzikir dalam hati
maupun dengan lisan, shalat, atau membaca shalawat dan Al-Qur'an, atau
mempelajari ilmu-ilmu agama, atau membaca buku-buku lain yang bermanfaat.
Saat ini betapa banyak rumah-rumah
umat Islam yang mati karena tidak ada dzikrullah di dalamnya, sebagaimana
disebutkan oleh hadits di atas. Dan apatah lagi manakala yang menjadi dendangan
di dalam rumah itu adalah syair-syair dan lagu-lagu setan, menggunjing, berdusta
dan mengadu domba?
Bila Takdirmu Dipoligami
Sebuah Kisah yang sangat mengharukan
Aku tak tahu, apa yang akan kuceritakan. Aku wanita asli solo, meski berdarah keturunan. Suamiku juga berasal dari kota batik itu. Kami pun tinggal, menikah dan menjalani hidup berumah tangga hingga 27 tahun di sana.
Aku tak tahu, apa yang akan kuceritakan. Aku wanita asli solo, meski berdarah keturunan. Suamiku juga berasal dari kota batik itu. Kami pun tinggal, menikah dan menjalani hidup berumah tangga hingga 27 tahun di sana.
Aku menikah di usia 18 tahun, sementara suamiku 22 tahun. Kini, aku telah memasuki 45 tahun, sementara suamiku sudah 48 tahun.Selama ini, kami hidup tentram. Sampai saatnya, aku mulai memasuki masa manopause, dan suamiku ingin menikah lagi. Ia ingin berpoligami. Ingin mencari wanita lain sebagai maduku.
Entahlah, aku tidak bisa mengungkapkan semuanya sebegitu detilnya. Yang jelas, aku merasa berat sekali. Terus terang, semenjak sepuluh tahun terakhir ini, suamiku semakin rajin mendalami agama, banyak menghadiri majelis ilmu, dan tekun menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Sementara aku sendiri memang tergolong malas mengaji.
Sehingga, diantara kami ada jurang pemisah yang cukup dalam. Di mana suamiku mengalami banyak perubahan dalam menata diri, dalam membina iman dan islamnya, sementara aku diam di tempat, atau malah mundur beberapa langkah.
Suamiku sering menyuruhku untuk mengenakan busana muslimah yang sesuai syari’at, tapi aku enggan menaatinya. Aku kadang mengenakan kerudung kecil, hanya pada even-even penting saja. Selebihnya, setiap hari aku tampil dan berbusana bebas mengumbar sebagian auratku di mana-mana. Pernah beberapa kali suamiku mengajak mengaji, dan aku mengenakan busana muslimah yang layak. Tapi, mungkin hanya 2 atau 3 kali dalam rentang sepuluh tahun ini. Tak memberi bekas sedikit pun pada diriku. Aku bahkan tak pernah lagi menyambut panggilannya untuk menghadiri majelis ilmu.
Mengenal Dajjal
“Tiadalah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali pasti para
nabi itu telah mengingatkan umatnya akan orang yang buta sebelah lagi pendusta,
ingatlah sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian
tidaklah buta sebelah.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
Rabu, 05 September 2012
Al GHURABA (Orang-orang Asing)

Tujuan penyampaian materi:
1.
Agar peserta tarbiyah memahami hakikat Al Ghuraba
2.
Agar peserta tarbiyah mengetahui keutamaan Hadits Ghuraba
3.
Agar peserta tarbiyah memahami sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dalam memenangkan Islam (Secara khusus dari keadaan asing menuju
keadaan eksis)
4.
Agar peserta tarbiyah mendapatkan ibrah pada manhaj Rasululullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam untuk diterapkan dalam menegakkan dakwah hari ini
5.
Agar peserta tarbiyah mengetahui keutamaan ghuraba dan tidak berpaling
dari keistiqamahan hanya karena keterasingan yang dirasakannya.
6.
Agar peserta tarbiyah mengetahui sebab-sebab keterasingan dan metode
menghilangkannya.
Pengantar
Dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam bersabda:
بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء
“Islam mulai dalan keadaan asing dan akan kembali - sebagaimana ketika
dia mulai - asing maka keberuntunganlah bagi orang-orang yang dianggap asing.” (HR. Muslim)
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma
dengan lafazh:
إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ
“Sesungguhnya Islam
mulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ketika dia
dimulai.”
Imam Ibnu Majah meriwayatkan
dari Abu Hurairah, Abdullah din Mas’ud dan Anas bin Malik Radhiyalahu ‘Anhum
dengan lafazh:
إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبيا فطوبى للغرباء
“Sesungguhnya Islam mulai dalam keadaan asing dan
akan kembali menjadi asing maka keberuntunganlah bagi orang-orang yang dianggap
asing.”
Langganan:
Postingan (Atom)



