Aisyah binti Abu Bakar (wafat 58 H)
Dia dipersunting oleh Nabi saw. pada tahun kedua Hijrah dan satu-satunya istri Rasulullah saw. yang dikawininya sewaktu perawan. Dia adalah istri yang paling dicintai oleh Nabi dan yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi. Dia juga termasuk wanita yang paling pakar dalam ilmu agama dan etika. Dia wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi.
عائشة بنت أبي بكر (توفيت 58 هـ) : تزوجها النبي صلى الله عليه وسلم في السنة لثانية بعد الهجرة، لم يتزوج النبي بكرا غيرها، كانت أحب نسائه إليه ، كانت تكثر الرواية عن رسول الله، كانت أفقه نساء الأمة وأعلمهن بالدين والأدب. توفيت بالمدينة ودفنت بالبقيع.
Hafsah binti Umar (wafat 45 H)
Dari sejak Islam muncul, dia langsung memeluk agama Islam. Dia bersama suaminya ikut hijrah ke Madinah, namun suaminya meninggal dunia seusai perang Badar. Rasulullah melamarnya dari orang tuanya, seterusnya dia dinikahkan kepada Rasulullah. Beliau meninggal di Madinah.
حفصة بنت عمر (توفيت 45 هـ) : لما ظهر الإسلام أسلمت وهاجرت هي وزوجها إلى المدينة فمات عنها بعد وقعة بدر، فخطبها الرسول من أبيها فزوجه إياها، توفيت بالمدينة.
Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H)
Nama aslinya adalah Burrah binti Harits. Dia ditawan oleh kaum Muslimin pada perang Bani Musthaliq dan diberikan kepada Tsabit bin Qais sebagai bagian dari rampasan perang. Dia diberi hak oleh Tsabit untuk menebus kemerdekaannya dengan imbalan sejumlah harta. Dia pergi menghadap Rasulullah minta bantuan, Rasulullah menawarkan kepadanya persetujuannya membayar sejumlah harta yang telah disepakati itu kemudian setelah merdeka Rasulullah menikahinya.
جويرية بنت الحارث بن أبي ضرار (توفيت 56 هـ) : برة بنت الحارث، سباها المسلمون بعد انتصارهم على بني المصطلق، ووقعت في سهم ثابت بن قيس فكاتبها على مال تؤديه فتعتق، فجاءت رسول الله تطلب منه العون فعرض عليها أن يؤدي عنها كتابتها ويعتقها ويتزوجها.
Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH)
Dia adalah istri Rasulullah yang pertama dan orang yang paling banyak membantu perjuangannya di tahun-tahun pertama kenabian. Sebelum masa kenabian ia dijuluki dengan julukan "wanita suci". Rasulullah menikah dengannya 15 tahun sebelum diangkat menjadi nabi. Putra-putrinya dari Nabi adalah; Qasim, Abdullah keduanya meninggal ketika masih kecil, kemudian Zainab, Ruqaiyah, Ummi Kultsum dan Fatimah. Dia memberikan dukungan penuh baik moril maupun materil kepada Nabi dalam perjuangan beliau. Khadijah wafat pada "aamul-huzni" [tahun kesedihan] dan dimakamkan di Hujun.
خديجة بنت خويلد (توفيت 3 ق. هـ) : زوجة الرسول الأولى ونصيرته في السنوات الأولى للبعثة، كانت تدعى قبل البعثة" الطاهرة"، تزوجها الرسول قبل البعثة بخمس عشرة سنة، أولادها من النبي القاسم وعبد الله وقد ماتا صغيرين، وزينب ورقية وأم كلثوم وفاطمة، ساندت الرسول وثبتت جأشه توفيت في عام الحزن ودفنت بالحجون.
Maimunah binti Harits (wafat 50 H/670 M)
Nama aslinya adalah Burrah, oleh Nabi diganti dengan Maimunah. Dialah wanita yang menghadiahkan dirinya kepada Nabi yang karenanya turun ayat yang artinya: "Perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi..".(Al-Ahzab, ayat 50)
ميمونة بنت الحارث (توفيت 50هـ/670م) : كان اسمها برة فسماها النبي ميمونة، وهبت نفسها للنبي ونزل فيها {وامرأة مؤمنة إن وهبت نفسها للنبي} (سورة الأحزاب آية 50).
Mariah Qibtiah (wafat 16 H/637 M)
Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.
مارية القبطية (توفيت 16هـ/637م) : مصرية الأصل أهداها المقوقس حاكم مصر سنة 7هـ إلى النبي ثم أعتقها وتزوجها فولدت له إبراهيم، لما توفي النبي تولى الإنفاق عليها أبو بكر ثم عمر، وتوفيت في خلافة عمر.
Saudah binti Zam`ah (wafat 23 H/643 M)
Dia masuk Islam bersama suaminya dan turut hijrah ke Abessina. Dalam hijrah yang kedua, suaminya meninggal dunia, lalu dinikahi oleh Rasulullah setelah Khadijah wafat. Rasulullah membawanya hijrah ke Madinah. Dia termasuk istri Nabi yang sering memberikan giliran harinya kepada Aisyah.
سودة بنت زمعة (توفيت 23هـ/643م) : أسلمت هي وزوجها وهاجرت إلى الحبشة، وتوفي زوجها وتزوجها الرسول بعد وفاة خديجة وهاجر بها إلى المدينة.
Sofiah binti Huyai bin Akhtab (wafat 50 H)
Sebelumnya dia penganut Yahudi Bani Akhthab yang tertawan pada perang Khaibar. Rasulullah saw. memilih dan memerdekakannya, lalu ia masuk Islam, setelah itu dinikahi oleh Rasulullah saw. dan wafat di Madinah.
صفية بنت حيي بن أخطب (توفيت 50 هـ) : كانت من يهود بني أخطب، وكانت من سبايا فتح خيبر فاصطفاها النبي وأعتقها وأسلمت فتزوجها، توفيت بالمدينة.
Ummu Habibah binti Abu Sofyan (wafat 44 H/664 M)
Nama lengkapnya adalah Ramlah binti Abu Sofyan, dia ikut hijrah ke Abessina (Eriteria sekarang) bersama suaminya, tetapi suaminya terpengaruh di sana, lalu murtad dan meninggal dunia sebagai penganut Kristen. Rasulullah saw. segera mengirim Amru bin Umaiah Dhumari untuk melamarnya buat Rasulullah. Najasyi, penguasa Abessina menikahkannya kepada Rasulullah dengan mahar sebesar 400 dinar.
أم حبيبة بنت أبي سفيان (توفيت 44 هـ/664 م) : هي رملة بنت أبي سفيان، هاجرت إلى الحبشة مع زوجها ولكنه افتتن ومات نصرانيا فبعث رسول الله عمرو بن أمية الضمري فخطبها لرسول الله وزوجه إياها النجاشي وأصدقها أربعمائة دينار.
Ummu Salamah (wafat 57 H/676 M)
Nama lengkapnya adalah Hindun binti Umaiah, termasuk sahabat wanita yang masuk Islam pada periode pertama. Dia termasuk yang ikut hijrah dua kali (Abessina dan Madinah). Suaminya mati syahid dalam perang Badar, lalu Rasulullah menikahinya. Beliau termasuk wanita yang jenius, berakhlak mulia dan pandai tulis-baca. Dia dikaruniai usia yang panjang, dia wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi.
أم سلمة (توفيت 57هـ/676م) : هند بنت أمية، صحابية قديمة الإسلام، هاجرت الهجرتين، وقتل زوجها ببدر فتزوجها الرسول، كانت من أكمل الناس عقلا وخلقا وكانت تعرف الكتابة، عمرت طويلا وتوفيت بالمدينة ودفنت بالبقيع.
Zainab binti Jahsy (wafat 20 H)
Nama aslinya adalah Burrah, sepupu Rasulullah. Semula dia menikah dengan Zaid bin Haritsah, setelah dicerai, dia dinikahi Rasulullah dan diberi nama Zainab dan dijuluki dengan Ummul Hakam. Dia sangat warak dan kuat beragama serta banyak bersedekah. Beliau juga seorang yang cekatan dan terampil, suka bekerja sendiri, menyantuni orang-orang miskin dan selalu memberi derma buat keluarga dan anak yatim.
زينب بنت جحش (توفيت 20 هـ) : بنت عمة رسول الله تزوجها زيد بن حارثة وكان اسمها برة، وطلقها زيد فتزوجها الرسول وسماها زينب، كانت تكنى أم الحكم وكانت دينة ورعة كثيرة الصدقات، وكانت صناعا تعمل بيديها وتتصدق على الفقراء، وكانت تعطي ذوي قرابتها وأيتامها.
Wallaju A'lam
Minggu, 12 Desember 2010
Sabtu, 11 Desember 2010
Nasehat Bagi Para Da'i
Fatwa Samahatu Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله
Tentang Uslub (Metode) mengkritik dan mengoreksi kesalahan sesama da’i
Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan, dan melarang dari kezholiman, melampaui batas dan permusuhan. Dan Allah telah mengutus nabi-Nya Muhammad seba-gaimana mengutus seluruh rasul dengan tugas berda’wah kepada tauhid dan meng-ikhlaskan ibadah hanya kepada Allah . Allah memerintahkan untuk menegak-kan keadilan dan melarang dari kebalikan-nya yaitu beribadah kepada selain Allah , berpecah-belah, bercerai-berai dan men-zholimi hak-hak sesama hamba.
Pada masa ini telah tersebar bahwa banyak orang-orang yang berintisab (me-nyandarkan diri) kepada ilmu, da’wah dan kebaikan, yang menodai banyak kehorma-tan dari saudara-saudaranya para da’i yang terkenal. Mereka mencela kehormatan para penuntut ilmu, da’i dan muhaadhir. Mereka melakukan itu secara rahasia pada majelis-majelis mereka dan mungkin saja mereka merekamnya pada kaset-kaset lalu menyebarkannya kepada khalayak ramai, dan kadang mereka melaku kan hal tersebut secara terang-terangan pada penga jian-pengajian umum di masjid-masjid, dan cara seperti ini menyelisihi apa yang Allah perintah-kan kepada rasul-Nya ditinjau dari bebe-rapa sisi,diantaranya:
1. Hal ini merupakan kezholiman ter-hadap hak-hak kaum muslimin, secara khusus para penuntut ilmu dan da’i yang telah berusaha untuk memahamkan ma-nusia, membimbing mereka, memper-baiki aqidah serta manhaj mereka, dan mereka telah berusaha keras untuk me-ngatur (mentanzhim) pelajaran-pelajaran, pengajian-pengajian dan menulis buku-buku yang bermanfaat.
2. Perbuatan tersebut memecah be-lah persatuan kaum muslimin dan shaf-shaf mereka, padahal mereka sangat membutuhkan persatuan dan jauh dari bercerai-berai, berpecah-belah serta ba-nyak terlibat dalam saling membicarakan (mencela) diantara mereka. Apalagi para da’i yang dicela tersebut adalah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah, khurafat dan senantia-sa menghadapi para penyeru-pernyeru kepada bid’ah dan khurafat serta menyi-
ngkap program-program dan aib-aib mereka.
Kami tidak memandang ada maslahat dalam perbuatan ini, kecuali yang didapat-kan oleh para musuh-musuh Allah yang senantiasa menunggu-nunggu (mengintai) dari kalangan orang-orang kafir, munafiq atau ahlul bid’ah dan kesesatan.
3. Perbuatan ini menolong dan mendu-kung para orientalis dan mustaghribin (orang-orang yang terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman Barat) dan selain mereka dari orang-orang Mulhid (orang-orang yang menyimpang) yang terkenal senantiasa mencela para da’i, berdusta atas nama mereka dan senantiasa mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ditulis oleh para da’i tersebut. Dan bukan merupakan hak Ukhuwah Islamiyah orang-orang yang suka meng-kritik itu menolong musuh-musuh Allah untuk menghadapi saudara-saudaranya para penuntut ilmu, da’i dan selain mereka.
4. Sesungguhnya perbuatan ini merusak hati-hati kaum muslimin secara umum dan khusus, menyebar luaskan kedustaan dan isu-isu yang batil, dan merupakan penyebab banyaknya ghibah dan namimah, serta membuka pintu-pintu kejahatan kepada orang yang lemah jiwanya yang kebiasaan mereka menyebarkan syubhat, membuat fitnah dan sangat bersemangat untuk menyakiti kaum mu’mimin dengan apa yang mereka tidak kerjakan.
5. Bahwa kebanyakan dari perkataan yang dikatakan tidak memiliki hakikat, dia hanyalah sangkaan-sangkaan yang diperindah oleh syaithan kepada pengi-kutnya dan syaithan memperdaya mereka dengannya. Allah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ
الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ الحجرات : 12
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah keba-nyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan-lah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(QS. Al Hujuraat : 12)
Seorang mu’min sepantasnya mem-bawa perkataan saudaranya sesama mu’min kepada makna yang terbaik. Sebagian salaf mengatakan :
“Jangan kamu menyangka sebuah kali-mat yang keluar dari (mulut) saudaramu itu jelek sementara kamu mendapatkan ada kemungkinan makna yang baik dari perkataan tersebut”.
6. Ijtihad-ijtihad sebagian ulama dan para penuntut ilmu dalam masalah yang boleh mereka berijtihad di da-lamnya, maka dia tidak dihukumi dengan itu dan tidak dicela selama dia memiliki kemampuan untuk berijtihad. Jika ada seseorang yang menyelisihinya dalam masalah itu, maka sepantasnya dia berdialog dengan cara yang terbaik dengan harapan untuk mencapai kebe-naran dengan jalan yang terdekat dan menolak was-was syaithan dan hasut-annya diantara kaum mu’minin. Jika itu
tidak mampu dilakukan dan seseorang melihat bahwasanya dia mesti menjelaskan penyimpangan, maka hendaknya itu dila-kukan dengan ibarat dan isyarat yang terbaik dan terlembut, tanpa menyerang dan melukai atau melampaui batas dalam perkataannya yang kadang membuat orang menolak kebenaran atau berpaling darinya, dan tanpa menyinggung masalah-masalah pribadi atau menuduh niat-niat atau me-nambah perkataannya yang dia tidak kata-kan. Adalah Rasulullah mengatakan da-lam hal yang seperti ini :
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا
“Mengapa kaum-kaum tersebut mengatakan begini dan begitu“ (HR. Muslim)
Maka yang saya nasihatkan kepada para ikhwan yang mencela kehormatan-kehormatan para du’aat dan menyinggung mereka untuk bertobat kepada Allah dari apa yang mereka tulis dengan tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lisan-lisan mereka yang merupakan penyebab kerusakan hati sebagian pemuda, mela-irkan kedengkian diantara mereka, mela-laikan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan da’wah ilallah, menyibuk-kan mereka kepada membicarakan tentang si fulan dan fulan, dan mencari-cari apa yang mereka anggap sebagai kesalahan orang lain dan memancingnya serta me-maksa-maksakan untuk itu. Sebagaimana kami nasihatkan agar mereka menutupi apa yang mereka telah lakukan berupa tulisan atau yang lainnya yang bisa membebaskan diri mereka dari perbuatan ini dan meng-hilangkan apa-apa yang tersimpan pada benak orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka, dan melakukan amalan-amalan yang memiliki buah/hasil yang mendekatkan diri kepada Allah serta bermanfaat bagi hamba-hamba. Dan hen-
daknya mereka berhati-hati dari keter-gesa-gesaan mengkafirkan atau menfa-siqkan atau membid’ahkan selain mereka tanpa keterangan yang jelas dan dalil. Nabi bersabda :
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا رواه البخاري و مسلم
“Apabila seseorang berkata kepada saudara-nya: “Wahai Kafir, maka perkataan itu akan kembali kepada salah satu diantara keduanya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Termasuk hal yang disyariatkan kepa-da para pengajak kepada kebenaran dan penuntut ilmu, jika ada yang mereka per-masalahkan dari perkataan ulama atau selain mereka, agar kembali kepada ulama-ulama yang mu’tabar (diakui keilmuannya), bertanya kepada mereka tentang masalah tersebut agar mereka menjelaskan secara jelas permasalahan-nya dan menempatkan pada hakikatnya (tempat yang sebenarnya) serta menghi-langkan pada jiwa mereka keraguan dan syubhat, dan ini merupakan pengamalan firman Allah dalam surat An Nisaa : 83 :
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبـَــــعْتُمُ الشَّيـْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang
ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu me-ngikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An Nisaa : 83)
Dan Allah yang memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, menyatu-kan hati-hati mereka di atas dasar taqwa, memberikan taufiq kepada seluruh ulama kaum muslimin dan para du’aat yang me-ngajak kepada kebenaran sesuai dengan apa yang diridhoinya dan bermanfaat untuk hamba-hamba-Nya, menyatukan kalimat mereka di atas petunjuk, melindu-ngi mereka dari sebab-sebab perpecahan dan ikhtilaf, menolong kebenaran dan me-rendahkan kebatilan, sesungguhnya Dialah penolong dan yang mampu melaksanakan-nya.
Maraji’:
1. Majmu’ Fataawa Wa Maqalaat Mutanawwi’ah, Syekh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz 7 : 311 – 314
2. Al Fataawa Asy Syar’iyah Fi Al Masail Al Ashriyyah Min Fataawa ‘Ulaamai Al Balad Al Haram hal. 338 – 341
Berkata Tabi’i Jalil Sa’id bin Musayyib رحمه الله:
“Tiadalah seorang yang mulia alim dan memiliki keutamaan melainkan memiliki aib, namun diantara manusia ada yang tidak pantas disebut aib-aibnya” (Lihat Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2:821)
Tentang Uslub (Metode) mengkritik dan mengoreksi kesalahan sesama da’i
Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan, dan melarang dari kezholiman, melampaui batas dan permusuhan. Dan Allah telah mengutus nabi-Nya Muhammad seba-gaimana mengutus seluruh rasul dengan tugas berda’wah kepada tauhid dan meng-ikhlaskan ibadah hanya kepada Allah . Allah memerintahkan untuk menegak-kan keadilan dan melarang dari kebalikan-nya yaitu beribadah kepada selain Allah , berpecah-belah, bercerai-berai dan men-zholimi hak-hak sesama hamba.
Pada masa ini telah tersebar bahwa banyak orang-orang yang berintisab (me-nyandarkan diri) kepada ilmu, da’wah dan kebaikan, yang menodai banyak kehorma-tan dari saudara-saudaranya para da’i yang terkenal. Mereka mencela kehormatan para penuntut ilmu, da’i dan muhaadhir. Mereka melakukan itu secara rahasia pada majelis-majelis mereka dan mungkin saja mereka merekamnya pada kaset-kaset lalu menyebarkannya kepada khalayak ramai, dan kadang mereka melaku kan hal tersebut secara terang-terangan pada penga jian-pengajian umum di masjid-masjid, dan cara seperti ini menyelisihi apa yang Allah perintah-kan kepada rasul-Nya ditinjau dari bebe-rapa sisi,diantaranya:
1. Hal ini merupakan kezholiman ter-hadap hak-hak kaum muslimin, secara khusus para penuntut ilmu dan da’i yang telah berusaha untuk memahamkan ma-nusia, membimbing mereka, memper-baiki aqidah serta manhaj mereka, dan mereka telah berusaha keras untuk me-ngatur (mentanzhim) pelajaran-pelajaran, pengajian-pengajian dan menulis buku-buku yang bermanfaat.
2. Perbuatan tersebut memecah be-lah persatuan kaum muslimin dan shaf-shaf mereka, padahal mereka sangat membutuhkan persatuan dan jauh dari bercerai-berai, berpecah-belah serta ba-nyak terlibat dalam saling membicarakan (mencela) diantara mereka. Apalagi para da’i yang dicela tersebut adalah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah, khurafat dan senantia-sa menghadapi para penyeru-pernyeru kepada bid’ah dan khurafat serta menyi-
ngkap program-program dan aib-aib mereka.
Kami tidak memandang ada maslahat dalam perbuatan ini, kecuali yang didapat-kan oleh para musuh-musuh Allah yang senantiasa menunggu-nunggu (mengintai) dari kalangan orang-orang kafir, munafiq atau ahlul bid’ah dan kesesatan.
3. Perbuatan ini menolong dan mendu-kung para orientalis dan mustaghribin (orang-orang yang terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman Barat) dan selain mereka dari orang-orang Mulhid (orang-orang yang menyimpang) yang terkenal senantiasa mencela para da’i, berdusta atas nama mereka dan senantiasa mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ditulis oleh para da’i tersebut. Dan bukan merupakan hak Ukhuwah Islamiyah orang-orang yang suka meng-kritik itu menolong musuh-musuh Allah untuk menghadapi saudara-saudaranya para penuntut ilmu, da’i dan selain mereka.
4. Sesungguhnya perbuatan ini merusak hati-hati kaum muslimin secara umum dan khusus, menyebar luaskan kedustaan dan isu-isu yang batil, dan merupakan penyebab banyaknya ghibah dan namimah, serta membuka pintu-pintu kejahatan kepada orang yang lemah jiwanya yang kebiasaan mereka menyebarkan syubhat, membuat fitnah dan sangat bersemangat untuk menyakiti kaum mu’mimin dengan apa yang mereka tidak kerjakan.
5. Bahwa kebanyakan dari perkataan yang dikatakan tidak memiliki hakikat, dia hanyalah sangkaan-sangkaan yang diperindah oleh syaithan kepada pengi-kutnya dan syaithan memperdaya mereka dengannya. Allah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ
الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ الحجرات : 12
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah keba-nyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan-lah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(QS. Al Hujuraat : 12)
Seorang mu’min sepantasnya mem-bawa perkataan saudaranya sesama mu’min kepada makna yang terbaik. Sebagian salaf mengatakan :
“Jangan kamu menyangka sebuah kali-mat yang keluar dari (mulut) saudaramu itu jelek sementara kamu mendapatkan ada kemungkinan makna yang baik dari perkataan tersebut”.
6. Ijtihad-ijtihad sebagian ulama dan para penuntut ilmu dalam masalah yang boleh mereka berijtihad di da-lamnya, maka dia tidak dihukumi dengan itu dan tidak dicela selama dia memiliki kemampuan untuk berijtihad. Jika ada seseorang yang menyelisihinya dalam masalah itu, maka sepantasnya dia berdialog dengan cara yang terbaik dengan harapan untuk mencapai kebe-naran dengan jalan yang terdekat dan menolak was-was syaithan dan hasut-annya diantara kaum mu’minin. Jika itu
tidak mampu dilakukan dan seseorang melihat bahwasanya dia mesti menjelaskan penyimpangan, maka hendaknya itu dila-kukan dengan ibarat dan isyarat yang terbaik dan terlembut, tanpa menyerang dan melukai atau melampaui batas dalam perkataannya yang kadang membuat orang menolak kebenaran atau berpaling darinya, dan tanpa menyinggung masalah-masalah pribadi atau menuduh niat-niat atau me-nambah perkataannya yang dia tidak kata-kan. Adalah Rasulullah mengatakan da-lam hal yang seperti ini :
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا
“Mengapa kaum-kaum tersebut mengatakan begini dan begitu“ (HR. Muslim)
Maka yang saya nasihatkan kepada para ikhwan yang mencela kehormatan-kehormatan para du’aat dan menyinggung mereka untuk bertobat kepada Allah dari apa yang mereka tulis dengan tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lisan-lisan mereka yang merupakan penyebab kerusakan hati sebagian pemuda, mela-irkan kedengkian diantara mereka, mela-laikan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan da’wah ilallah, menyibuk-kan mereka kepada membicarakan tentang si fulan dan fulan, dan mencari-cari apa yang mereka anggap sebagai kesalahan orang lain dan memancingnya serta me-maksa-maksakan untuk itu. Sebagaimana kami nasihatkan agar mereka menutupi apa yang mereka telah lakukan berupa tulisan atau yang lainnya yang bisa membebaskan diri mereka dari perbuatan ini dan meng-hilangkan apa-apa yang tersimpan pada benak orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka, dan melakukan amalan-amalan yang memiliki buah/hasil yang mendekatkan diri kepada Allah serta bermanfaat bagi hamba-hamba. Dan hen-
daknya mereka berhati-hati dari keter-gesa-gesaan mengkafirkan atau menfa-siqkan atau membid’ahkan selain mereka tanpa keterangan yang jelas dan dalil. Nabi bersabda :
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا رواه البخاري و مسلم
“Apabila seseorang berkata kepada saudara-nya: “Wahai Kafir, maka perkataan itu akan kembali kepada salah satu diantara keduanya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Termasuk hal yang disyariatkan kepa-da para pengajak kepada kebenaran dan penuntut ilmu, jika ada yang mereka per-masalahkan dari perkataan ulama atau selain mereka, agar kembali kepada ulama-ulama yang mu’tabar (diakui keilmuannya), bertanya kepada mereka tentang masalah tersebut agar mereka menjelaskan secara jelas permasalahan-nya dan menempatkan pada hakikatnya (tempat yang sebenarnya) serta menghi-langkan pada jiwa mereka keraguan dan syubhat, dan ini merupakan pengamalan firman Allah dalam surat An Nisaa : 83 :
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبـَــــعْتُمُ الشَّيـْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang
ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu me-ngikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An Nisaa : 83)
Dan Allah yang memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, menyatu-kan hati-hati mereka di atas dasar taqwa, memberikan taufiq kepada seluruh ulama kaum muslimin dan para du’aat yang me-ngajak kepada kebenaran sesuai dengan apa yang diridhoinya dan bermanfaat untuk hamba-hamba-Nya, menyatukan kalimat mereka di atas petunjuk, melindu-ngi mereka dari sebab-sebab perpecahan dan ikhtilaf, menolong kebenaran dan me-rendahkan kebatilan, sesungguhnya Dialah penolong dan yang mampu melaksanakan-nya.
Maraji’:
1. Majmu’ Fataawa Wa Maqalaat Mutanawwi’ah, Syekh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz 7 : 311 – 314
2. Al Fataawa Asy Syar’iyah Fi Al Masail Al Ashriyyah Min Fataawa ‘Ulaamai Al Balad Al Haram hal. 338 – 341
Berkata Tabi’i Jalil Sa’id bin Musayyib رحمه الله:
“Tiadalah seorang yang mulia alim dan memiliki keutamaan melainkan memiliki aib, namun diantara manusia ada yang tidak pantas disebut aib-aibnya” (Lihat Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2:821)
Jumat, 10 Desember 2010
Sunnah dan Bid'ah di hari Asyura'
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah di dalam Al Qur'an(QS. At Taubah:36).
Sebagaimana telah disabdakan pula oleh Rasulullah dalam hadits beliau(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah .
Maka sebagaimana Allah telah memuliakannya, maka kita pun harus memuliakannya. Namun dengan cara yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukan dengan taklid buta, mengikuti tradisi yang diwariskan turun-temurun, atau disandarkan pada hadits-hadits yang tidak shahih.
Asyura' dalam Ajaran Islam
Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyariatkan untuk berpuasa. Ibnu Abbas menceritakan, "Rasulullah tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura' (tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya, "Hari apakah ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya." Nabi bersabda, "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian," maka Nabi berpuasa Asyura' dan memerintahkan untuk berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim).
Harus Menyalahi Ahli Kitab
Para sahabat berkata kepada Rasulullah , "Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah bersabda, "Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada tanggal sembilan(Muharram)." (HR. Muslim dari Ibnu Abbas).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, sabda Rasulullah , "Berpuasalah pada hari Asyura' dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah (juga) sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."
Dari hadits Ibnu Abbas di atas sebagian ulama diantaranya Imam Ibnul Qayyim menganjurkan berpuasa tiga hari tanggal 9, 10 dan 11 Muharram . Namun hadits tersebut lemah karena pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Layla yang manurut Al Hafizh Ibnu Hajar hafalannya sangat buruk.
Oleh karena itu puasa yang dianjurkan hanyalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram akan tetapi jika ada keraguan dalam penetapan awal bulan maka Imam Ahmad menganjurkan berpuasa tiga hari agar puasa pada tanggal 9 dan 10 diyakini dengan benar telah dikerjakan (lihat: Al Mughni 4/441)
Keutamaan Asyura'
Dari Abu Qatadah , bahwa Nabi ditanya tentang (keutamaan) puasa Asyura’, maka beliau menjawab:
“Ia (puasa) ‘Asyura, menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim)
Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.
Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah sangat memperhatikan berpuasa (sunnah) pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya melebihi puasa hari ini (Asyura') " (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah bersabda,
أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim).
Bid'ah-bid'ah Asyura'
10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya cucu Rasulullah yang mulia Al-Husain bin Ali di padang Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan dua kebid'ahan sekaligus.
Pertama: Bid'ah Syi'ah
Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura', mereka memperingati gugurnya Al-Husain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Al-Husain secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, Ahmad Al-Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. 141).
Kedua: Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah
Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas, orang Ahlussunnah yang jahil (bodoh) menjadikan hari Asyura' sebagai hari raya, pesta dan serba ria.
Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy, "Dua budaya (bid'ah) yang sangat kontras ini, menurut literatur yang ada bermula pada jaman dinasti Buwaihi (321H - 447 H.) yang mana masa itu terkenal dengan tajamnya pertentangan antara Ahlussunnah dan Syi'ah. Orang-orang jahil dari kalangan Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia, sementara orang-orang Syi'ah menjadikannya sebagai hari duka cita, mereka berkumpul membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan menjerit." (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah hal.142).
Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada kelompok Syi'ah yang sangat ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husain yang dipelopori oleh Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi (tahun 67 H dibunuh oleh Mush'ab bin Az-Zubair). Ada pula kelompok Nawashib (yang anti Ali beserta keturunan beliau), yang di antaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan telah disebut di dalam hadits shahih,
أَنَّ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابًا وَمُبِيرًا
"Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) seorang pendusta dan pembantai." (HR. Muslim)
Pendusta tadi adalah Al-Mukhtar yang memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah, dan pembantai tadi adalah Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin, maka yang Syi'ah tadi menciptakan bid'ah duka cita sementara yang Nawashib menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' hal. 150).
Di antara bid'ah-bid'ah yang banyak dikerjakan oleh masyarakat pada hari Asyura adalah:
1. Menambah belanja dapur
Banyak riwayat yang mengatakan, "Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari Asyura', maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR. At-Thabrani, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr).
Hadits telah dinyatakan lemah oleh banyak diantaranya Imam Ahmad, Ibnul Qayyim, ‘Uqaily dan Asy Syaukani. Sedangkan Ibnul Jauzi menulisnya di dalam kumpulan hadits palsu. (Lihat juga penjelasan syaikh Albani dalam Tamamul Minnah, hal 410)
2. Mandi khusus, memakai celak mata dan mewarnai kuku
Mereka meriwayatkan sebuah hadits, "Barangsiapa yang memakai celak pada hari Asyura', maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun itu." (Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda', hal. 150-151)
Imam Suyuthi juga telah menyebutkan ketiga perkara di atas sebagai bid’ah munkarah karena dasarnya hadits palsu
3. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'
Mereka tidak segan-segan membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan hadits orang Syi'ah yang berbunyi:
"Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura' dari bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka seakan-akan seluruh umat Muhammad berbuka di rumahnya sampai kenyang." (Hadits palsu dinyatakan oleh Imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, dalam Al Fawaid Al Majmu’ah no. 33).
4. Membaca doa Asyura', seperti yang tercantum dalam kumpulan doa dan Majmu' Syarif
yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan husnul khatimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca doa Asyura' tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang jahat. (As-Sunan wal Mubtada'at, hal.134).
7. Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari berbagai penyakit.
8. Shalat Asyura'
Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at no 1005. Wallahu A'lam.
Referensi : Buletin An Nur No.231 Thn VI, dengan beberapa perubahan
Sebagaimana telah disabdakan pula oleh Rasulullah dalam hadits beliau(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah .
Maka sebagaimana Allah telah memuliakannya, maka kita pun harus memuliakannya. Namun dengan cara yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukan dengan taklid buta, mengikuti tradisi yang diwariskan turun-temurun, atau disandarkan pada hadits-hadits yang tidak shahih.
Asyura' dalam Ajaran Islam
Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa pada hari 10 Muharram disyariatkan untuk berpuasa. Ibnu Abbas menceritakan, "Rasulullah tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura' (tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya, "Hari apakah ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya." Nabi bersabda, "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian," maka Nabi berpuasa Asyura' dan memerintahkan untuk berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim).
Harus Menyalahi Ahli Kitab
Para sahabat berkata kepada Rasulullah , "Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah bersabda, "Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada tanggal sembilan(Muharram)." (HR. Muslim dari Ibnu Abbas).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, sabda Rasulullah , "Berpuasalah pada hari Asyura' dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah (juga) sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya."
Dari hadits Ibnu Abbas di atas sebagian ulama diantaranya Imam Ibnul Qayyim menganjurkan berpuasa tiga hari tanggal 9, 10 dan 11 Muharram . Namun hadits tersebut lemah karena pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Layla yang manurut Al Hafizh Ibnu Hajar hafalannya sangat buruk.
Oleh karena itu puasa yang dianjurkan hanyalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram akan tetapi jika ada keraguan dalam penetapan awal bulan maka Imam Ahmad menganjurkan berpuasa tiga hari agar puasa pada tanggal 9 dan 10 diyakini dengan benar telah dikerjakan (lihat: Al Mughni 4/441)
Keutamaan Asyura'
Dari Abu Qatadah , bahwa Nabi ditanya tentang (keutamaan) puasa Asyura’, maka beliau menjawab:
“Ia (puasa) ‘Asyura, menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim)
Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.
Karena itu, pantas jika Ibnu Abbas menyatakan, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah sangat memperhatikan berpuasa (sunnah) pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya melebihi puasa hari ini (Asyura') " (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah bersabda,
أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim).
Bid'ah-bid'ah Asyura'
10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya cucu Rasulullah yang mulia Al-Husain bin Ali di padang Karbala. Karena peristiwa berdarah ini, setan berhasil menciptakan dua kebid'ahan sekaligus.
Pertama: Bid'ah Syi'ah
Asyura' dijadikan oleh Syi'ah sebagai hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan dari kesedihan dan penyesalan. Pada setiap Asyura', mereka memperingati gugurnya Al-Husain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Al-Husain secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah, Ahmad Al-Kisrawiy Asy-Syi'iy, hal. 141).
Kedua: Bid'ah Jahalatu Ahlissunnah
Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi'ah di atas, orang Ahlussunnah yang jahil (bodoh) menjadikan hari Asyura' sebagai hari raya, pesta dan serba ria.
Menurut Ahmad Al-Kisrawi Asy-Syi'iy, "Dua budaya (bid'ah) yang sangat kontras ini, menurut literatur yang ada bermula pada jaman dinasti Buwaihi (321H - 447 H.) yang mana masa itu terkenal dengan tajamnya pertentangan antara Ahlussunnah dan Syi'ah. Orang-orang jahil dari kalangan Ahlussunnah menjadikan Asyura' sebagai hari raya dan hari bahagia, sementara orang-orang Syi'ah menjadikannya sebagai hari duka cita, mereka berkumpul membacakan syair-syair haru kemudian menangis dan menjerit." (At-Tasyayyu' Wasy-Syi'ah hal.142).
Sementara Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa di Kufah ada kelompok Syi'ah yang sangat ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Al-Husain yang dipelopori oleh Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi (tahun 67 H dibunuh oleh Mush'ab bin Az-Zubair). Ada pula kelompok Nawashib (yang anti Ali beserta keturunan beliau), yang di antaranya adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan telah disebut di dalam hadits shahih,
أَنَّ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابًا وَمُبِيرًا
"Sesungguhnya (akan muncul) di Tsaqif (kepala suku dari Hawazin) seorang pendusta dan pembantai." (HR. Muslim)
Pendusta tadi adalah Al-Mukhtar yang memperselisihkan keimamahan Ibnul Hanafiyah, dan pembantai tadi adalah Al-Hajjaj yang membenci Alawiyyin, maka yang Syi'ah tadi menciptakan bid'ah duka cita sementara yang Nawashib menciptakan bid'ah bersuka ria. (Al-Ibda' hal. 150).
Di antara bid'ah-bid'ah yang banyak dikerjakan oleh masyarakat pada hari Asyura adalah:
1. Menambah belanja dapur
Banyak riwayat yang mengatakan, "Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari Asyura', maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu." (HR. At-Thabrani, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr).
Hadits telah dinyatakan lemah oleh banyak diantaranya Imam Ahmad, Ibnul Qayyim, ‘Uqaily dan Asy Syaukani. Sedangkan Ibnul Jauzi menulisnya di dalam kumpulan hadits palsu. (Lihat juga penjelasan syaikh Albani dalam Tamamul Minnah, hal 410)
2. Mandi khusus, memakai celak mata dan mewarnai kuku
Mereka meriwayatkan sebuah hadits, "Barangsiapa yang memakai celak pada hari Asyura', maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari Asyura', ia tidak akan sakit selama tahun itu." (Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda', hal. 150-151)
Imam Suyuthi juga telah menyebutkan ketiga perkara di atas sebagai bid’ah munkarah karena dasarnya hadits palsu
3. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura'
Mereka tidak segan-segan membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan hadits orang Syi'ah yang berbunyi:
"Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura' dari bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura', maka seakan-akan seluruh umat Muhammad berbuka di rumahnya sampai kenyang." (Hadits palsu dinyatakan oleh Imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, dalam Al Fawaid Al Majmu’ah no. 33).
4. Membaca doa Asyura', seperti yang tercantum dalam kumpulan doa dan Majmu' Syarif
yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan husnul khatimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca doa Asyura' tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid'ah yang jahat. (As-Sunan wal Mubtada'at, hal.134).
7. Membaca "Hasbiyallah wani'mal wakil" pada air kembang untuk obat dari berbagai penyakit.
8. Shalat Asyura'
Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at no 1005. Wallahu A'lam.
Referensi : Buletin An Nur No.231 Thn VI, dengan beberapa perubahan
SIAPA DI BALIK TOKOH?
Kehidupan kaum hawa memang penuh keunikan. Di satu sisi,jumlah mereka lebih banyak dari laki-laki, namun di sisi lain, kiprah mereka dalam sejarah terabaikan dan terpinggirkan dari pena sejarawan. Padahal jika diperhatikan, sungguh besar peran yang mereka mainkan 'di balik layar' dalam mengantarkan 'si buah hati' menjadi alim besar atau mujahid sejati.
Seperti pepatah yang tidak asing lagi; "Di balik tokoh yang mulia, ada wanita yang mulia". Tugas seorang wanita sebagai pendidik dan sebagai ibu dari anaknya adalah salah satu tugas yang paling mulia dan utama yang dibebankan Allah kepadanya. Ibu adalah guru pertama, sebelum si kecil berguru kepada guru besar manapun. Maka kecerdasan, keuletan dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak.
Islam telah memberikan perhatian yang besar kepada kaum ibu dan memuliakan mereka dengan kemualian yang setinggi-tingginya. Di antara meraka terdapat wanita shalihah, ahli ibadah, pemimpin yang jejak kehidupannya ditulis oleh para ahli hadits. Tidak dipungkiri lagi bagaimana keshalehan Hasan al Bashri, kejeniusan Imam Syafi'i, kecerdasan Iyas adz-Dzaki, kegagahan dan keberanian putra Zubair, Abdullah, Urwah, tentang empat putra Khansa' yang gugur menyongsong syahadah. Tapi siapa gerangan di balik mereka? Bagaimana sosok seorang ibu di balik mereka?
KRITERIA SEORANG IBU DALAM ISLAM
1. Berhias dengan akhlak yang terpuji
Seorang ibu harus mampu menanamkan norma-norma luhur dan budi pekerti mulia dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, karena yang tidak punya sesuatu tidak mungkin memberi pada orang lain, sehingga dia tidak pernah puas menghiasi dirinya dengan melaksanakan hak-hak Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di samping itu dia terus berusaha sedikit demi sedikit manghapalkan Al-Qur'an dan hadits-hadits yang bisa membantunya dalam urusan agama dan keluarganya, dan terus mengasuh kemampuannya dalam hal-hal yang positif. Al-Qur'an telah menentukan karakter seorang ibu yang baik dan shalihah, artinya,
"Maka wanita shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka." (QS. An-Nisa: 34).
Ini merupakan kriteria tambahan yang menjadi ciri wanita shalihah setelah ia menunaikan kewajiban membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam mendidik sang anak. Maka tidak salah kalau sahabat Utsman bin Affan pernah berpesan kepada anak-anaknya dan berkata, "Wahai anak-anakku sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menyemai benih, maka hendaklah dia memperhatikan di mana ia akan menyemai."
Tetapi tatkala seorang ibu hanya bisa melumuri dirinya dengan dosa-dosa saja, maka kita hanya akan menuai duri dan buah yang pahit. Allah berfirman, artinya,
"Tanah yang baik itu, tanamannya akan tumbuh subur dengan izin Allah, sedangkan tanah yang tandus, maka tanaman-tanamannya akan tumbuh merana." (QS. Al-A'raf: 58).
2. Menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Seorang ibu yang bijak akan membangun akhlak anak-anaknya diawali dengan menanamkan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga apapun yang dialami sang anak, dia tidak berkeluh kesah dan tidak berburuk sangka kepada Allah, begitu pula dalam mencintai Rasul-Nya. Sebagaimana kecintaan Khubaib ibn 'Adi kepada Rasulullah yang ketika itu telah mengalami siksa yang sangat keras dari orang kafir, dan menjelang hukum matinya orang kafir bertanya, "Maukah kamu berikan posisimu sekarang saat ini kepada Muhammad dan kami akan mendudukkan kamu di posisinya?" Dengan tubuh bersimbah darah Khubaib menjawab tegas, "Demi Allah, aku tidak rela diriku dan anak istriku selamat sedangkan Rasulullah tertusuk duri sekalipun."
Inilah hakekat cinta kepada Rasulullah yang sebenarnya, bukan mengajarkan kepada anak ritual-ritual yang justru tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah .
Tentunya kalau anak-anak dibesarkan dengan cara seperti itu, diajari bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, maka setelah dewasa ia akan jadi anak shaleh, orang tuanya tidak akan mendengarkan kata kasar darinya, membentak orang tua, namun sebaliknya ia akan selalu berkata halus kepada mereka. Kalau ibunya sampai menangis di depannya, pastilah hatinya merasa sedih dan turut menangis bersamanya, karena sejak kecil ibunya telah menanamkan dalam hatinya kecintaan kepada Allah. Sebaliknya, kemurkaan orang tua akan mengundang kemurkaan Allah.
3. Memberi dorongan untuk sukses.
Jika ada di antara ulama salaf yang telah hapal Al-Qur'an pada umur tujuh tahun, atau hapal sekian hadits pada usia yang masih belia, atau umur empat belas tahun menjadi mufti (pemberi fatwa) seperti imam Syafi', maka itu semua tidak terjadi begitu saja. Itu semua karena di balik kesuksesan mereka, ada ibu shalihah yang senantisa mamberikan dorongan untuk sukses. Dengan demikian, jelaslah bahwa peran ibu amatlah esensial dalam dunia pendidikan. Ia adalah pemeran utama dan salah satu faktor terpenting yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut. Dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya. Di sisinyalah si kecil mendapatkan kehangatan, seyuman dan belaian tangan ibu akan mengorbankan semangatnya. Jari-jari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulus dan deraian air mata bagi si buah hati, adalah kunci kesuksesannya di hari esok. Sebagaimana kisah Imam Bukhari—rahimahullah—yang sempat buta pada masa kecilnya, namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ia berjumpa dengan Nabi Ibrahim dan berkata, "Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang kamu panjatkan kepadanya. " Keesokan harinya penglihatan Imam Bukhari betul-betul telah kembali. Inilah salah satu keutamaan dari seorang ibu yang menghiasi dirinya dengan banyak beribadah dan mendekatkan dirinya kepada Allah .
Rasulullah bersabda, "Tidaklah seorang Muslim yang memanjatkan doa, bukan untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturrahmi kecuali akan diberikan salah satu dari tiga kemungkinan, doanya akan segera dikabulkan, akan disimpan dan diberikan ketika kita di akhirat, atau ia akan dihalangi dari tertimpa musibah yang sebanding dengannya…" (HR. Al-Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).
4. Selektif dalam persoalan halal dan haram
Makin baik yang masuk ke dalam perut, makin baik pula pengaruhnya, makanan bergizi saja belum cukup. Tapi lebih dari itu, hendaknya ia perhatikan dari mana makanan dan minuman itu diperoleh, jangan sampai ia masih tercampur dengan yang syubhat atau yang haram.
Rasulullah bersabda,
يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
"Wahai Ka'ab bin 'Ujrah! Ingatlah, daging yang tumbuh dari barang haram itu lebih layak untuk masuk neraka." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Keampuhan doa seseorang juga bergantung pada apa yang masuk dalam perutnya. Semakin baik yang masuk ke dalam perutnya, semakin mustajab pula doanya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah , Rasulullah menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut dan penuh dengan debu, lalu menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, "Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!" Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?" (HR. Muslim).
Dengan demikian bagaimanapun usaha kita, kesungguhan kita dalam mendidik sang kecil untuk menjadi orang yang mulia tapi kalau sesuatu yang haram masih memasuki rumah kita, bahkan ke dalam perut-perut keluarga kita, semua yang kita usahakan akan menjadi sia-sia belaka.
5. Menghiasi diri dengan keikhlasan dan kesabaran.
Tugas seorang ibu tidaklah ringan, di samping dia bertugas melayani suaminya, seorang ibu juga bertugas mengatur rumah tangga dan mendidik sang anak. Sehingga tidak sedikit seorang ibu yang sudah berkeluarga ingin kembali hidup sendiri karena merasa beban sebagai ibu rumah tangga sangat berat dan melelahkan. Tetapi tatkala semua itu diniatkan untuk beribadah, maka insya Allah beban yang berat akan terasa mambahagiakan. Dan dengan mendidik anaknya dengan benar hingga menjadi generasi shaleh dan shalehah merupakan ladang pahala baginya, karena salah satu amal yang tidak terputus setelah datangnya maut adalah doa anak shaleh untuk kedua orang tuanya. Jadi kerepotan dan keikhlasan seorang ibu akan terbayar dengan sesuatu yang tidak ternilai, sebagaimana sabda Rasulullah , "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah meridhainya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah akan memurkainya." (HR. At-Tirmizi, dinyatakan shahih oleh al Albani).
Demi menggapai kebahagian yang ukhrawi, seorang ibu tidak jarang mengerahkan seluruh kesabarannya dalam mengorbankan segala yang dia miliki. Dan tidak sedikit seorang ibu harus bersabar melepaskan anaknya untuk belajar ke negeri orang, atau berjihad demi keridhan Allah. Maka bagaimana dengan kita, apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya? Bahkan sekadar menyuruh anak-anak kita untuk belajar ilmu agama saja kita tidak sanggup. Justru sebagian besar orang tua sekarang menghalangi anaknya untuk memperdalam ilmu agamanya, padahal Rasulullah bersabda, "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)
Wallohu Waliyyut Taufiq
Abu 'Iyadh Rafiuddin Al-Bulukumbawiy
Sumber: Buletin Al Fikrah No 19/VIII
Seperti pepatah yang tidak asing lagi; "Di balik tokoh yang mulia, ada wanita yang mulia". Tugas seorang wanita sebagai pendidik dan sebagai ibu dari anaknya adalah salah satu tugas yang paling mulia dan utama yang dibebankan Allah kepadanya. Ibu adalah guru pertama, sebelum si kecil berguru kepada guru besar manapun. Maka kecerdasan, keuletan dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak.
Islam telah memberikan perhatian yang besar kepada kaum ibu dan memuliakan mereka dengan kemualian yang setinggi-tingginya. Di antara meraka terdapat wanita shalihah, ahli ibadah, pemimpin yang jejak kehidupannya ditulis oleh para ahli hadits. Tidak dipungkiri lagi bagaimana keshalehan Hasan al Bashri, kejeniusan Imam Syafi'i, kecerdasan Iyas adz-Dzaki, kegagahan dan keberanian putra Zubair, Abdullah, Urwah, tentang empat putra Khansa' yang gugur menyongsong syahadah. Tapi siapa gerangan di balik mereka? Bagaimana sosok seorang ibu di balik mereka?
KRITERIA SEORANG IBU DALAM ISLAM
1. Berhias dengan akhlak yang terpuji
Seorang ibu harus mampu menanamkan norma-norma luhur dan budi pekerti mulia dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, karena yang tidak punya sesuatu tidak mungkin memberi pada orang lain, sehingga dia tidak pernah puas menghiasi dirinya dengan melaksanakan hak-hak Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di samping itu dia terus berusaha sedikit demi sedikit manghapalkan Al-Qur'an dan hadits-hadits yang bisa membantunya dalam urusan agama dan keluarganya, dan terus mengasuh kemampuannya dalam hal-hal yang positif. Al-Qur'an telah menentukan karakter seorang ibu yang baik dan shalihah, artinya,
"Maka wanita shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka." (QS. An-Nisa: 34).
Ini merupakan kriteria tambahan yang menjadi ciri wanita shalihah setelah ia menunaikan kewajiban membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam mendidik sang anak. Maka tidak salah kalau sahabat Utsman bin Affan pernah berpesan kepada anak-anaknya dan berkata, "Wahai anak-anakku sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menyemai benih, maka hendaklah dia memperhatikan di mana ia akan menyemai."
Tetapi tatkala seorang ibu hanya bisa melumuri dirinya dengan dosa-dosa saja, maka kita hanya akan menuai duri dan buah yang pahit. Allah berfirman, artinya,
"Tanah yang baik itu, tanamannya akan tumbuh subur dengan izin Allah, sedangkan tanah yang tandus, maka tanaman-tanamannya akan tumbuh merana." (QS. Al-A'raf: 58).
2. Menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Seorang ibu yang bijak akan membangun akhlak anak-anaknya diawali dengan menanamkan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga apapun yang dialami sang anak, dia tidak berkeluh kesah dan tidak berburuk sangka kepada Allah, begitu pula dalam mencintai Rasul-Nya. Sebagaimana kecintaan Khubaib ibn 'Adi kepada Rasulullah yang ketika itu telah mengalami siksa yang sangat keras dari orang kafir, dan menjelang hukum matinya orang kafir bertanya, "Maukah kamu berikan posisimu sekarang saat ini kepada Muhammad dan kami akan mendudukkan kamu di posisinya?" Dengan tubuh bersimbah darah Khubaib menjawab tegas, "Demi Allah, aku tidak rela diriku dan anak istriku selamat sedangkan Rasulullah tertusuk duri sekalipun."
Inilah hakekat cinta kepada Rasulullah yang sebenarnya, bukan mengajarkan kepada anak ritual-ritual yang justru tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah .
Tentunya kalau anak-anak dibesarkan dengan cara seperti itu, diajari bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, maka setelah dewasa ia akan jadi anak shaleh, orang tuanya tidak akan mendengarkan kata kasar darinya, membentak orang tua, namun sebaliknya ia akan selalu berkata halus kepada mereka. Kalau ibunya sampai menangis di depannya, pastilah hatinya merasa sedih dan turut menangis bersamanya, karena sejak kecil ibunya telah menanamkan dalam hatinya kecintaan kepada Allah. Sebaliknya, kemurkaan orang tua akan mengundang kemurkaan Allah.
3. Memberi dorongan untuk sukses.
Jika ada di antara ulama salaf yang telah hapal Al-Qur'an pada umur tujuh tahun, atau hapal sekian hadits pada usia yang masih belia, atau umur empat belas tahun menjadi mufti (pemberi fatwa) seperti imam Syafi', maka itu semua tidak terjadi begitu saja. Itu semua karena di balik kesuksesan mereka, ada ibu shalihah yang senantisa mamberikan dorongan untuk sukses. Dengan demikian, jelaslah bahwa peran ibu amatlah esensial dalam dunia pendidikan. Ia adalah pemeran utama dan salah satu faktor terpenting yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut. Dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya. Di sisinyalah si kecil mendapatkan kehangatan, seyuman dan belaian tangan ibu akan mengorbankan semangatnya. Jari-jari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulus dan deraian air mata bagi si buah hati, adalah kunci kesuksesannya di hari esok. Sebagaimana kisah Imam Bukhari—rahimahullah—yang sempat buta pada masa kecilnya, namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ia berjumpa dengan Nabi Ibrahim dan berkata, "Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang kamu panjatkan kepadanya. " Keesokan harinya penglihatan Imam Bukhari betul-betul telah kembali. Inilah salah satu keutamaan dari seorang ibu yang menghiasi dirinya dengan banyak beribadah dan mendekatkan dirinya kepada Allah .
Rasulullah bersabda, "Tidaklah seorang Muslim yang memanjatkan doa, bukan untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturrahmi kecuali akan diberikan salah satu dari tiga kemungkinan, doanya akan segera dikabulkan, akan disimpan dan diberikan ketika kita di akhirat, atau ia akan dihalangi dari tertimpa musibah yang sebanding dengannya…" (HR. Al-Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).
4. Selektif dalam persoalan halal dan haram
Makin baik yang masuk ke dalam perut, makin baik pula pengaruhnya, makanan bergizi saja belum cukup. Tapi lebih dari itu, hendaknya ia perhatikan dari mana makanan dan minuman itu diperoleh, jangan sampai ia masih tercampur dengan yang syubhat atau yang haram.
Rasulullah bersabda,
يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
"Wahai Ka'ab bin 'Ujrah! Ingatlah, daging yang tumbuh dari barang haram itu lebih layak untuk masuk neraka." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Keampuhan doa seseorang juga bergantung pada apa yang masuk dalam perutnya. Semakin baik yang masuk ke dalam perutnya, semakin mustajab pula doanya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah , Rasulullah menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut dan penuh dengan debu, lalu menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, "Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!" Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?" (HR. Muslim).
Dengan demikian bagaimanapun usaha kita, kesungguhan kita dalam mendidik sang kecil untuk menjadi orang yang mulia tapi kalau sesuatu yang haram masih memasuki rumah kita, bahkan ke dalam perut-perut keluarga kita, semua yang kita usahakan akan menjadi sia-sia belaka.
5. Menghiasi diri dengan keikhlasan dan kesabaran.
Tugas seorang ibu tidaklah ringan, di samping dia bertugas melayani suaminya, seorang ibu juga bertugas mengatur rumah tangga dan mendidik sang anak. Sehingga tidak sedikit seorang ibu yang sudah berkeluarga ingin kembali hidup sendiri karena merasa beban sebagai ibu rumah tangga sangat berat dan melelahkan. Tetapi tatkala semua itu diniatkan untuk beribadah, maka insya Allah beban yang berat akan terasa mambahagiakan. Dan dengan mendidik anaknya dengan benar hingga menjadi generasi shaleh dan shalehah merupakan ladang pahala baginya, karena salah satu amal yang tidak terputus setelah datangnya maut adalah doa anak shaleh untuk kedua orang tuanya. Jadi kerepotan dan keikhlasan seorang ibu akan terbayar dengan sesuatu yang tidak ternilai, sebagaimana sabda Rasulullah , "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah meridhainya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah akan memurkainya." (HR. At-Tirmizi, dinyatakan shahih oleh al Albani).
Demi menggapai kebahagian yang ukhrawi, seorang ibu tidak jarang mengerahkan seluruh kesabarannya dalam mengorbankan segala yang dia miliki. Dan tidak sedikit seorang ibu harus bersabar melepaskan anaknya untuk belajar ke negeri orang, atau berjihad demi keridhan Allah. Maka bagaimana dengan kita, apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya? Bahkan sekadar menyuruh anak-anak kita untuk belajar ilmu agama saja kita tidak sanggup. Justru sebagian besar orang tua sekarang menghalangi anaknya untuk memperdalam ilmu agamanya, padahal Rasulullah bersabda, "Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)
Wallohu Waliyyut Taufiq
Abu 'Iyadh Rafiuddin Al-Bulukumbawiy
Sumber: Buletin Al Fikrah No 19/VIII
Langganan:
Postingan (Atom)